Tolong yah kawan, please ! Tulislah cerita Tentang Salah satu pahlawan yakni JENDERAL SOEDIRMAN yg terkenal akan siasat perang gerilya nya ! Cerita ini berdura
Sejarah
ayyu50
Pertanyaan
Tolong yah kawan, please !
Tulislah cerita Tentang Salah satu pahlawan yakni JENDERAL SOEDIRMAN yg terkenal akan siasat perang gerilya nya ! Cerita ini berdurasi 2 jam, jadi, cerita nya jgn sedikit yah ! please !
No Asal !!!
Maafkan saya jika ada kesalahan yg saya sampaikan,
Terima Kasih.
Tulislah cerita Tentang Salah satu pahlawan yakni JENDERAL SOEDIRMAN yg terkenal akan siasat perang gerilya nya ! Cerita ini berdurasi 2 jam, jadi, cerita nya jgn sedikit yah ! please !
No Asal !!!
Maafkan saya jika ada kesalahan yg saya sampaikan,
Terima Kasih.
1 Jawaban
-
1. Jawaban Salsabilaxchanell
Buka menu utama

Cari
SuntingPantau halaman ini
Baca dalam bahasa lain
Soedirman
Pahlawan Nasional
"Sudirman" beralih ke halaman ini. Untuk tokoh lainnya, lihat Sudirman (disambiguasi).
Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesiapertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasadi Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Raden
SoedirmanPanglima Besar Tentara Keamanan Rakyat ke-1Masa jabatan
12 November 1945 – 29 Januari 1950PresidenSoekarnoDigantikan olehSoehartoInformasi pribadiLahir24 Januari 1916[a]
 Purbalingga, Hindia BelandaMeninggal29 Januari 1950 (umur 34)
 Magelang, IndonesiaDimakamkanTaman Makam Pahlawan Semaki
7°48′9,88″LU 110°23′2,11″BT / 7,8°LS 110,38333°BTAgamaIslamTanda tanganDinas militerPengabdian
 Kekaisaran Jepang(1944–1945) Indonesia (1945–1950)
Dinas/cabang TNI Angkatan DaratMasa dinas1944–1950Pangkat
Letnan Jenderal (saat kematian)Jenderal (anumerta, 1950) Jenderal Besar(anumerta, 1997)
Komando
Tentara PETA, BanyumasDivisi V TKR, Banyumas
PerangRevolusi Nasional IndonesiaPenghargaanPahlawan Nasional Indonesia
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer IIuntuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilyaselama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya
follow aku