apa saja nilai estetis, nilai intri sik, dan nilai eksrtrinsik pada lukisan Monalisa??
Pertanyaan
1 Jawaban
-
1. Jawaban Anonyme
Estetika dan Keindahan
Estetika dalam arti sederhana merupakan ilmu yang membahas tentang keindahan atau disebut juga filsafat keindahan (philosophy of beauty). Estetika berasal dari kata aisthetika atau aesthesis yang dalam dalam bahasa Yunani berarti hal-hal yang dapat diterima dengan indera.
Berbicara tentang keindahan, secara umum banyak orang yang menghubungkan pengertian seni dengan keindahan. Memang tidak salah bahwa pengertian seni mengandung nilai keindahan, akan tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurut cangkupannya seseorang harus membedakan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Dalam bahasa Inggris digunakan istilah beauty (keindahan) dan the beautifull (benda atau hal yang indah). Dalam pembahasan filsafat, kedua pengertian tersebut terkadang dicampuradukkan saja. Selain itu terdapat pula beberapa pengertian keindahan diantaranya : (1) keindahan dalam arti luas, keindahan mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato yang menyebutkan watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan. Sehingga dalam pengertian ini keindahan meliputi keindahan seni, alam, moral, dan intelektual (2) keindahan dalam arti terbatas, lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang diterima oleh penglihatan, yakni berupa keindahan dari bentuk dan warna secara kasat mata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan pengamat (3) keindahan dalam arti estetika murni, menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diterimanya.
Teori Keindahan
Teori estetika bermula pada filsafat Plato. Plato adalah orang yang pertamakali mencetuskan teori tentang keindahan (theory of beauty) pada abad ke-18. Teori keindahan dan teori seni merupakan fokus perhatian para ahli filsafat pada saat itu. Menurut Gie, keindahan merupakan cara untuk memberitahu seseorang untuk mengenali apa keindahan itu. Sedangkan teori keindahan yaitu menjelaskan alasan mengapa dan bagaimana alasan itu. Dalam sejarah estetika terdapat dua teori keindahan dengan masing-masing penganutnya, yakni teori obyektif yang dianut oleh Plato, Hegel, dan Bernard Bosanquet dan teori subyektif yang dianut oleh Henry Home, Edmund Burke, dan Earl of Shaftesbury.
Dalam teori subyektif keindahan ditekankan pada penganalisaan seseorang atau bergantung pada penerimaan atau perasaan seseorang dalam mengamati suatu karya meskipun sesungguhnya keindahan tidak dimiliki oleh benda atau karya tersebut. Jika dinyatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh suatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap karya itu. Misalnya penilaian keindahan pada lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci, tentunya setiap manusia memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang menilai bahwa lukisan tersebut memiliki sisi keindahan, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya. Hal tersebut bergantung pada penerimaan masing-masing manusia dalam mengamati lukisan tersebut.
Sedangkan teori obyektif menekankan pada penganalisaan benda atau karya yang sudah ada. Keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai estetis adalah sifat yang memang telah melekat pada suatu benda atau karya yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pengamatan seseorang hanyalah menemukan atau membuka sifat estetis yang sudah ada pada benda dan sama sekali tidak berpengaruh untuk mengubahnya. Contohnya seperti pemandangan alam yang dianggap memiliki unsur keindahan yang bersifat mutlak dan memaksa pihak subyektif untuk menerima unsur keindahan itu.
Adanya keindahan semata-mata tergantung pada penerimaan dari seseorang atau pengamat tersebut. Jika dikatakan bahwa sesuatu benda mempunyai nilai estetis, hal ini diartikan bahwa seseorang pengamat memperoleh sesuatu pengalaman estetis sebagai tanggapan terhadap benda itu.
Nilai Keindahan
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik atau bernilai dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk suatu hal lainnya. Nilai ini sering disebut instrumental (contributory) value, yakni nilai yang bersifat alat atau membantu. Contohnya seperti puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, dan irama disebut nilai ekstrinsik. Sedangkan nilai intrinsik adalah sifat baik atau bernilai dalam dirinya atau sebagai suatu tujuan ataupun demi kepentingan sendiri dari benda yang bersangkutan. Nilai ini disebut juga consummatory value, yakni nilai yang telah lengkap atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Contohnya seperti pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik.