B. Indonesia

Pertanyaan

contoh teks ulasan novel,cerpen,filem

1 Jawaban

  • ini dya jawaban nya
    Cerpen ini bercerita tentang kisah cinta remaja kebanyakan. Namun pada akhirnya, setelah melalui beberapa tahap hubungan, mereka menjadi teman. Ada banyak sekali kesalahan penulisan dalam cerpen ini. Pertama, pada paragraf awal cerpen terdapat kata "acuh". Namun setelah diperhatikan kembali makna kalimat utuhnya, kita pun tahu bahwa ada kesalahan penggunaan kata "acuh"yang dalam kata lain sama dengan "peduli". Jadi, kata "acuh" yang benar diganti menjadi "tak acuh" atau "tidak acuh".

    Kedua, soal EYD, di antaranya kata-kata berikut ini: "didepanku", "dimasa", "dikelas", "dihidupku", "dihatiku", "dikotaku", "dikampus", "di elu-elukan", "akupun", dan "sekedar", yang semestinya ditulis demikian: "di depanku", "di masa", "di kelas", "di hidupku", "di hatiku", "di kotaku", "di kampus", "dielu-elukan", "aku pun", dan "sekadar". Perhatikan perbedaan antara kata keterangan tempat/waktu dan kata kerja pasif. "Di-" dalam kata keterangan tempat/waktu--seperti "di kelas", "di rumah", "di pagi hari", dan lain sebagainya--wajib dipisah dari kata sesudahnya, alias berfungsi sebagai kata depan. Sementara, untuk kata kerja pasif--seperti "dipukul", "dielu-elukan", dan lain sebagainya








    penulisan "di-" wajib digabung dengan kata sesudahnya.

    Ketiga, penulisan kalimat dialog. Saran Tim FAM pada penulis, lebih banyaklah membaca novel-novel berkualitas, yang tentunya melalui proses editing yang ketat sebelum diterbitkan. Pelajari pola dan aturan (termasuk tanda baca dan lain sebagainya) yang bersangkutan dengan kalimat dialog dalam sebuah prosa. Dalam suatu cerpen, sebaiknya dialog tidak dibuat seperti dialog dalam sebuah naskah drama. Tetapi di sini penulis justu melakukannya, hingga cerpen ini tampak kurang rapi. Ke depan diharapkan agar penulis memelajari penulisan kalimat dialog dalam prosa (cerpen/novel) yang baik dan benar.

    Kemudian, untuk kata-kata yang tidak baku seperti "gak", "palak", "ngasih", "udah", "kebayang", dan lain sebagainya--terutama yang sering ditemukan dalam dialogsebaiknya ditulis dengan huruf miring. Sebenarnya tidak ada aturan wajib untuk itu. Ada dua pendapat yang beda, yang mana salah satunya memperbolehkan diketik dengan huruf biasa. Namun, FAM Indonesia menggunakan aturan pertama, yakni kata-kata yang tidak baku dan kata-kata dari bahasa asing diketik dengan huruf miring.

    Penggunaan tanda baca tidak perlu kita tulis secara berlebihan seperti rangkap dua, tiga, atau empat. Memasukkan emoticon pada tulisan, termasuk cerpen, juga tidak disarankan (sebaiknya kebiasaan ini dihilangkan). Terakhir, untuk penulisan judul, sebaiknya tidak menggunakan huruf kapital seluruhnya.

    Saran dari Tim FAM kepada penulis, teruslah berlatih dan berlatih. Menulis setiap hari akan membuat jemari kita lebih terbiasa. Akan tetapi, jangan lupa imbangi aktivitas menulismu dengan banyak membaca. Menulis dan membaca tidak dapat dipisahkan. Keduanya seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi. Tanpa membaca, tulisan kita akan sulit berkembang. Dengan banyak membaca karya berbagai penulis, kelak akan kita temukan gaya/ciri khas kita sendiri. Sebelum mempublikasikan tulisan, jangan malas melakukan editing atau koreksi ulang atas tulisanmu. Ingat, pembaca bukan orang yang mesti mengoreksi tulisan kita terlebih dulu sebelum menyerap isi tulisan itu. Pembaca hanya ingin membaca dan menikmati, jadi buatlah mereka menikmati tulisan yang kita sajikan dengan rapi. Bukankah jika tulisan diketik dan disusun dengan rapi, pembaca akan lebih nyaman dan ketagihan membaca tulisan kita? Bukankah itu menyenangkan?

     

Pertanyaan Lainnya